LADIES AND GENTLEMEN IT’S ABOUT ME
Aku lahir di kampung yang namanya sedikit aneh yaitu Buntu, mungkin karena memang tidak ada lagi kampung disebelah timurnya sehingga tidak ada jalan tembus kearah sana, sebagian orang bilang bahwa kampungku disebut buntu karena sering sekali pencuri yang menyatroni kampungku tidak bisa menemukan jalan keluar dan akhirnya tertangkap dan dihajar, bahkan pada tahun 2002 kalau tidak salah ada yang sampai mati dihakimi masa.
Orang mengenalku dengan nama Eko Suryanto walaupun menurut bapakku itu bukan nama yang beliau berikan untukku, beliau memberiku nama Muhammad Ali. Hanya karena aku lahir tanggal 1 muharram maka seorang guru SD dikampungku yang bernama Pak Sardiman memberiku nama Eko Suryanto, katanya nama itu sesuai dengan waktu kelahiranku yaitu hari pertama di tahun baru Hijriah. Karena pak Sardiman juga yan mengurus surat tanda lahirku maka nama Eko Suryanto pun menjadi nama resmiku di akte kelahiranku dan Ijazahku. Sampai sekarang aku memiliki dua nama yaitu Eko dan Ali.
Setamat SD aku didaftarkan oleh bapakku di MTsN Kalibeber Wonosobo, dan karena kecerdasanku dalam waktu tiga bulan aku selesai dan keluar dari sekolahan tsb. hehehe. Akhirnya tahun selanjutnya aku di buang ke Jakarta oleh bapakku sebagai hukuman karena mengecewakan beliau. di Jakarta aku masuk kepesantren tercinta Daarul Rahman yang diasuh oleh KH.Syukron Ma’mun (jazaahullahu ‘anni wa ‘an saairil muslimin).disanalah aku terbentuk menjadi aku sekarang ini, disanalah aku bertemu dengan orang-orang hebat yang sangat mempengaruhi sejarah hidupku, dan disanalah aku mengalami segala macam pengalaman manis,asin,pahit,sepet dll kayak permen nano nano.
Aku masuk tanpa test seleksi karena terlambat mendaftar (yang lain mendaftar sejak sebelum Ramadhan sedangkan aku mendaftar setelah lebaran) maka akupun masuk dikelas I.i
Jujur saja aku tidak peduli kelas apapun yang aku masuki bagiku sama saja (setidaknya begitu pendapatku waktu itu), dengan sebab yang aku sendiri kurang tahu kelas I.i dibubarkan dan akupun dipindahkan ke kelas I.G. dengan wali kelas Ustadz Cecep Hamzah (sampai aku tulis ini aku sama sekali tidak tahu khabar beliau, bagi pembaca yang tahu tolong dong. I need to know about him banget). Teman sekelasku waktu itu ada .Sukrisno, Atep, M.Badri, Maryadi, Mulyadi, Husna, Pedi, Abdul Muqib, Hj Nurlaela, NafisatulKhoiriah, Farida, dan lain lain yang sebagian besar aku lupa (sorry banget).yang jelas they maybe have gone from my brain but not from my heart.
Ruang kelasku ada di lantai 2 gedung Baitul Salam pas diatas tangga dipojokan atau tangga kedua dari sebelah selatan gedung. Aku dan teman teman dulu biasa godain tukang sate Madura yang lewat di jalan raya menuju Pasar Tulodong kadang juga iseng membuang kertas keatap rumah bang Sarpin (maaf bang) yang kebetulan berada dibelakang kelas kami.
Suatu ketika seorang teman dari kelas 1.E namanya Zaenal bilang padaku “ eh apaan tuh kelas 1.G, elu gak bakalan naik ke kelas 2.B”. akupun menjawab emang apa hebatnya kelas B ? sayangnya aku tidak ingat lagi jawaban Zaenal dari 1.E. maka akupun tetap seperti biasa dan tidak pernah peduli nanti naik ke kelas B atau C Atau Z sekalipun.
setiap hari berangkat kekelas yang kebetulan bersebelahan dengan kelas 1.C, jujur saja aku rajin berangkat lebih awal karena ada udang dibalik terigu.udang itu enak sekali apalagi kalau pakai saos sambal….eh sorry jadi nglantur. Dikelas 1 C aku tahu ada makhluk manis tentu menurut penilaianku waktu itu, kalau tidak salah dia dari Sumedang (kalau salah ya map deh),dan demi keamanan nasional, lebih baik namanya tidak disebutkan.
Dia membuatku berangkat lebih pagi karena aku tahu dia juga rajin berangkat pagi. Dan setiap dia melihatku dan tersenyum aku merasa memiliki dunia seisinya hahahaha…… aku merasa dia adalah kekasihku, Padahal dia tahu namaku saja tidak, yang jelas keceriaan dia membuatku betah di kota metropolitan, membuatku sedikit bisa melupakan bahwa Jakarta terlalu panas bagi orang pegunungan sepertiku.
Sayangnya aku naik kekelas 2.B ternyata dia juga, kelas 2.B putra bermigrasi ke Leuwilang Bogor, sedangkan kelas 2B.putri tetap di Jakarta.
Jadi kisah romantisku putus begitu saja,
tak kulihat lagi senyum manisnya
tak bisa aku nikmati lagi keceriaannya
aku seperti kehilangan dunia seisinya
hatikupun jadi hampa
tapi masa bodohlah toh Bogor tidak sepanas Jakarta
hahahahaha………………….jadi seperti seniman nanggung.
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
